Stoke A to Z - Tahapan selanjutnya setelah melakukan diagnosis stroke adalah melakukan pemeriksaan dan penanganan. Seperti kita tahu bahwa penyakit stroke tidak bisa dianggap enteng, karena butuh penanganan khusus dalam pelaksanaannya. Jika ada diantara sobat pembaca strokeatoz.blogspot.com yang belum tahu apa itu stroke, Sobat bisa membaca artikel kami yang berjudul Definisi Stroke (apa itu stroke?). Baca juga tentang penggolongan stroke (jenis-jenis stroke), untuk mengetahui secara lengkap tentang penyebab stroke dan tipe-tipe stroke. Nah menindaklanjuti artikel sebelumnya, kali ini kita akan mengupas tentng pemeriksaan stroke dan langkah penanganan untuk stroke akut.
Pemeriksaan Stroke dan Langkah Penanganan Penderita Stroke Akut
![]() |
| Illustrasi Gambar Pemeriksaan dan Penanganan Stroke |
1. Fase Akut
Umumnya berlangsung antara 4 hingga 7 hari. Sasaran pada fase ini adalah pasien selamat.
2. Fase Pemulihan
Setelah fase akut berlalu, selanjutnya adalah fase pemulihan yang berlangsung antara 2 - 4 minggu. Sasarannya adalah pasien belajar lagi ketrampilan motorik yang terganggu dan belajar penyesuaian baru untuk mengimbangi keterbatasan yang terjadi.
3. Rehabilitasi
Sasarannya adalah melanjutkan proses pemulihan untuk mencapai perbaikan kemampuan fisik, mental, sosial dan kemampuan berbicara.
4. Fase ke Kehidupan Sehari-hari
Setelah fase akut dilewati, maka terapi pencegahan untuk menghindari terulangnya stroke akut tetap di lakukan. Pasien biasanya dianjurkan untuk melakukan kontrol tensi secara rutin untuk mengendalikan kadar gula darah.
Penanganan Pasien Stroke di Rumah Sakit
Penanganan pasien stroke fase hiperakut harus dilakukan di rumah sakit. Tindakan yang akan dilakukan selama berada di rumah sakit sangat bergantung pada jenis dan berat-ringannya stroke yang dialami. Pasien mungkin dimasukkan melalui jalur biasa ke bagian gawat darurat, termasuk setelah itu pasien akan dianjurkan untuk rawat inap atau rawat jalan, sehingga penyebab stroke dapat di selidiki. Yang perlu diketahui adalah walaupun pasien dirawat inap, bukan berarti stroke akan mambahayakan atau membawa kecacatan.Perlu diketahui bahwa stroke tidak selalu bisa diprediksi, dan diperlukan waktu beberapa hari untuk memberikan suatu gambaran yang jelas terhadap kemungkinan selanjutnya. Untuk itu, para tim rumah sakit yang merawat pasien akan melakukan beberapa langkah untuk memastikan bahwa diagnosis awalnya benar, yakni stroke, bukan penyakit lain yang gejalanya mirip stroke, seperti tumor otak, epilepsi, migrain dan sebagainya.
Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh pihak rumah sakit (tim medis) adalah melakukan beberapa pemeriksaan antara lain:
1. Pencitraan CT-scan (Computerised Tomography Scanning)
Pasien akan dimasukan dalam suatu tabung besar untuk di potret pada bagian otak yang terserang atau yang rusak.
![]() |
| Illustrsi Gambar CT-scan Pada Pasien Penderita Stroke |
2. MRI (Magnetic Reonance Imaging)
Jia pada memindaian CT-scan tidak menunjukkan adanya sumbatan atau kerusakan, akan dilakukan pemotretan dengan MRI atau pencitraan getaran magnetis, atau dengan PET (Positron Emission Tomography), yang mampu mendeteksi kelainan yang lebih detail. Tes-tes tersebut biasanya segera dilakukan karena dalam sebulan tanda otak yang terserang akan hilang.
3. ECG / EKG
Kemungkinan pasien juga akan di ECG (Elektrocardiograhpy), yang menunjukkan grafik detak jantung, untuk mendeteksi penyakit jantung yang mungkin mendasari serangan stroke serta tekanan darah tinggi.
4. EEG
Aktivitas listrik oleh pasien juga akan dimonitor dengan electroencephalogram (EEG), yang dapat menemukan epilepsi atau kelainan listrik lainnya.
5. Tes Darah
Tes darah akan dilakukan secara rutin untuk beberapa alasan yaitu ada kemungkinan penyebab stroke adalah kelainan darah seperti anemia, lekemia, dan polisiternia (terlalu banyak sel darah merah, darah jadi kental), atau kekurangan vitamin. Tes darah juga dapat mengetahui masalah darah yang menghalangi pemulihan seperti penyakit ginjal, hati, diabetes, infeksi, atau dehidrasi (kekurangan cairan).
6. Angiogram atau Arteriogram
Yaitu sinar rontgen (sinar X) terhadap arteri, dengan memasukan cairan kontras kedalam arteri. Namun tindakan ini dapat menimbulkan komplikasi. Sebagai gantinya, dilakukan angiografi, suatu tindakan noninvasif berupa penyelidikan ultrasonik pada arteri karotis; yaitu pembuluh nadi besar di leher yang memasok darah ke otak.
7. Tindakan Lainnya
Mungkin akan dilakukan beberapa tindakan lain seperti pemotretan sinar rontgen (sinar X) pada bagian dada dan atau tengkorak.
Di samping semua tindakan atau pengobatan yang ditujukan untuk stroke secara langsung, keadaan pasien secara keseluruhan juga perlu diperhatikan. Kadar hemoglobin, elektrolit, albumin, kebersihan saluran pernafasan dan saluran kencing, perlu secara rutin diperhatikan. Kebutuhan yang mendasar seperti buang air besar juga perlu diperhatikan.
Langkah-langkah Penanganan Penderita Stroke Akut
Program pengobatan fase akut dilakukan dengan langkah awal penanganan stroke akut. Pertama-tama kita focuskan pada resituasi medis umum ABC:1. A (Air way) = Jalan Napas
Tindakan pertama dalam menangani pasien dengan stroke adalah dengan menilai sistem pernafasan. Pemeriksaan terhadap jalan napas meliputi pemeriksaan pada daerah mulut, seperti adakah sisa makanan, gigi palsu, atau benda asing lainnya yang dapat menghalangi jalan napas penderita.
Masalah jalan napas umumnya terjadi pada pasien dengan stroke pendarahan (hemoragik). Bagi pasien stroke iskemik (tanpa pendarahan), jalan napas biasanya stabil kecuali pada infrak batang otak atau kejang yang berulang.
Untuk menghindari sumbatan jalan napas pada pasien yang tidak sadar, pasien harus pada posisi miring (dekubitus lateral), leher hiperekstensi ringan dan bahu diangkat (chinleft technique), lendir di sedot bila perlu dilakukan tube endotrakeal. Bila intubasi diperlukan lebih dari 3 hari, maka tracheostomy dapat di pertimbangkan.
2. B (Breathing) = Pernapasan
Semua pasien stroke diberikan oksigen tambahan 1 - 2 liter per menit melalui hidung sampai ada hasil analisis gas darah, kemudian di sesuaikan dengan target partial Pa O2 = > 80 (sampai 100) mmHg.
![]() |
| Illustrasi Pemberian Oksigen Pada Pasien Sroke |
Pemberian oksigen pada pasien stroke umumnya bermanfaat, karena otak memerlukan oksigen yang banyak untuk melangsungkan metabolisme. Kadar Karondiokida (CO2): Pa CO2 = dipertahankan antara 30 -35 mmHg.
3. C (Circulation) = Keadaan Jantung
Setelah tindakan jalan napas dan oksigenasi, maka selanjutnya yang penting juga adalah memperbaiki sirkulasi dan perfusi otak secara cukup dengan cara mempertahankan curah jantung dan tekanan darah. Lalu diperiksa keadaan sirkulasinya, seperti tekanan darah dan denyut nadi.
Ketika berada di rumah sakit, pasien akan diperiksa jantungnya (EKG), bila diperlukan dapat diberikan oksigen, pemasangan infus, serta terapi lainnya seperti pemberian obat penurun panas dan obat penurun tekanan intrakranial.
Pada jam-jam pertama perlu dilakukan pemeriksaan terhadap tekanan darah. Bila ada riwayat tekanan darah tinggi, dapat diberikan obat antihipertensi. Dalam pemberian obat antihipertensi, kita harus waspada terhadap penurunan tensi yang terlalu cepat / rendah, karena dapat mengakibatkan aliran darah ke otak terganggu. Oleh sebab itu, tensi hanya diturunkan, bukan dinormalkan.
Pemantauan dengan EKG selama 24 jam pertama sejak serangan stroke sangat penting untuk mendeteksi adanya atrial flutter, atrial fibrilasi, atau infrak miokard. Bantuan sirkulasi harus diusahakan euvolemi. Karena kurang lebih sepertiga penderita stroke menderita dehidrasi, para penderita stroke dianjurkan untuk diberi cairan salin 10 -15 ml/kg BB secara bolus, kecuali bila ada kontra indikasi misal oedem, payah jantung.
Cairan yang boleh diberikan kepada pasien stroke akut adalah NaCl 0,95%, RL, 2A, atau Matros 10% dan potacol. Maksimum jumlah cairan 1500 cc/hari pada fase akut. Bila terdapat anemia, harus ditransfusi darah packed red cell sampai 30 - 40%.
Curah jantung rendah dapat terjadi karena kelainan jantung atau akibat infrak serebri. Lemahnya otot jantung (kardiomiopati) dapat terjadi karena pengaruh katekolamin yang meningkat pada infrak selebri atau pendarahan yang luas.
Penilaian Kelumpuhan
Pemeriksaan ada tidaknya kelumpuhan (defisitneurologis) dilakukan bila tindakan ABC telah menstabilkan kondisi umum penderita stroke. Tujuan penilaian ini adalah menentukan tingkat gangguan fungsi enurologik dan menentukan apakah fungsi saraf tersebut sudah stabil, membaik atau memburuk.Sebaiknya pemeriksaan ini diselesaikan dalam waktu kurang dari 15 menit dengan menggunakan skala Glasogow koma. Setelah semua tindakan diatas, selanjutnya penanganan pasien dapat dilakukan secara lebih detal dan insentif dengan melakukan pengobatan kondisi khusus.
Itulah Pemeriksaan Stroke dan Langkah Penanganan Penderita Stroke Akut, semakin kita tahu langkah pemeriksaan dan penanganan yang tepat, semakin besar peluang stroke untuk disembuhkan. Kedepannya kita akan berbagi informasi tentang Penatalaksanaan stroke atau hal-hal yang perlu diperhatikan pada penderita stroke supaya cepat pulih. Jangan sampai ketinggalan informasi dari kami, silahkan masukan email Sobat di kolom subscribe untuk mendapatkan pemberitahuan terbaru dari kami melalui email. Terima kasih.



